Senin, 29 Juli 2013

materi geografi kelas 7

Pola Pemukiman dan Kaitannya dengan Kondisi Fisik Muka Bumi

Pola pemukiman penduduk di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik daerahnya. Kondisi fisik yang dimaksud antara lain meliputi iklim, kesuburan tanah, dan topografi wilayah. Pengaruh kondisi fisik ini sangat terlihat pada pola pemukiman di daerah pedesaan, sedangkan di daerah perkotaan kurang begitu jelas, mengingat penduduk kota sangat padat, kecuali yang bertempat tinggal sepanjang aliran sungai, biasanya membentuk pola linear mengikuti aliran sungai.

Menurut Alvin L. Bertrand, berdasarkan pemusatan masyarakatnya, pola pemukiman penduduk desa dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
  1. Nucleated village, yaitu penduduk desa hidup bergerombol membentuk suatu kelompok yang disebut dengan nucleus.
  2. Line village, yaitu pemukiman penduduk yang menyusun tempat tinggalnya mengikuti jalur sungai atau jalur jalan dan membentuk deretan perumahan.
  3. Open country village, yaitu di mana penduduk desa memilih atau membangun tempat-tempat kediamannya tersebar di suatu daerah pertanian, sehingga dimungkinkan adanya hubungan dagang, karena adanya perbedaan produksi dan kebutuhan. Pola ini disebut juga trade centre community.
Sedangkan menurut Bintarto, terdapat enam pola pemukiman penduduk desa, yaitu:
  1. Memanjang jalan. Di daerah plain (datar) susunan desanya mengikuti jalur-jalur jalan dan sungai. Contoh desa ini dapat dilihat di daerah Bantul-Yogyakarta, dan merupakan Line Village atau pola desa yang memanjang.
  2. Memanjang sungai.
  3. Radial. Pola desa ini berbentuk radial terhadap gunung dan memanjang sepanjang sungai di lereng gunung.
  4. Tersebar, pola desa di daerah karst gunung adalah tersebar atau scattered, merupakan nukleus yang berdiri sendiri.
  5. Memanjang pantai. Di daerah pantai susunan desa nelayan berbentuk memanjang sepanjang pantai. Contoh ini terdapat di daerah Rengasdengklok Jawa Barat dan di daerah Tegal.
  6. Memanjang pantai dan sejajar dengan kereta api.
Line village atau pola desa memanjang mengikuti alur jalan. (Sumber: Indonesian Heritage)
Line village atau pola desa memanjang mengikuti alur
jalan. (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola desa radial. (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola desa radial. (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola desa memanjang mengikuti pantai. (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola desa memanjang mengikuti pantai.
(Sumber: Indonesian Heritage)
Jika kita perhatikan, ternyata ada keterkaitan antara pola pemukiman penduduk dengan pola pemukiman dengan iklim, pola pemukiman dengan kesuburan tanah, dan pola pemukiman dengan topografi wilayah.

1. Kaitan Pola Pemukiman dan Iklim

Pada umumnya penduduk terpusat di daerah-daerah dengan kondisi iklim yang mendukung kehidupannya. Banyaknya penduduk di suatu daerah dengan curah hujan yang cukup banyak menyebabkan sumber air banyak ditemukan di mana-mana. Hal ini dapat menyebabkan pola pemukiman penduduknya juga tersebar. Kurangnya curah hujan menyebabkan sumber air sedikit. Dengan demikian, penduduk akan mencari tempat tinggal yang memiliki sumber air untuk menunjang kehidupannya. Hal ini dapat menyebabkan pemukiman penduduk membentuk pola terpusat yang melingkari sumber air tersebut.

2. Pola Pemukiman dan Kesuburan Tanah

Daerah yang memiliki tanah-tanah yang subur dapat mengikat tempat tinggal penduduk dalam satu kelompok
(memusat). Sebaliknya, di daerah-daerah dengan tingkat kesuburan tanahnya sangat rendah (misalnya di daerah kapur), penduduk akan mencari tempat-tempat yang agak subur untuk tempat tinggalnya. Dengan demikian, pola pemukiman penduduknya akan membentuk pola tersebar (scattered).
Contoh pola pemukiman berdasarkan kesuburan tanah (tersebar) (Sumber: Indonesian Heritage)
Contoh pola pemukiman berdasarkan kesuburan tanah
(tersebar) (Sumber: Indonesian Heritage)

3. Pola Pemukiman dan Topografi Wilayah

Topografi merupakan faktor dominan yang menyebabkan terjadinya perbedaan pola pemukiman penduduk di daerah-daerah. Pola pemukiman penduduk di daerah pantai akan membentuk pola "line" atau memanjang mengikuti garis pantai. Pola line juga akan terbentuk di sepanjang jalan, jalan kereta, atau sepanjang aliran sungai. Begitu juga di daerah dengan topografi relatif datar biasanya membentuk pola mengelompok.

Pada daerah dengan topografi kasar atau bergelombang menyebabkan pola pemukiman penduduknya tersebar, karena mereka mencari tempat yang agak datar untuk membangun tempat tinggalnya. Di daerah ini tidak jarang jarak antara satu desa dengan desa lainnya sangat berjauhan, dan hanya dihubungkan oleh jalan setapak.

Penggunaan Lahan dan Kaitannya dengan Kondisi Fisik Muka Bumi

1. Penggunaan Lahan dan Iklim

Ketinggian tempat mempunyai pengaruh terhadap perubahan suhu. Beberapa jenis tanaman mempunyai kondisi suhu tertentu untuk dapat hidup dan berkembang secara optimal. Junghuhn, seorang ahli berkebangsaan Jerman pernah melakukan penelitian di Indonesia dan menemukan adanya perbedaan suhu dan jenis tanaman setiap perbedaan ketinggian tempatnya. Oleh karena itu, Junghuhn membagi iklim di daerah tropis berdasarkan ketinggian tempatnya menjadi empat daerah, yaitu:
a. Daerah iklim panas (22°C), berada pada ketinggian antara 0 - 700 m. Tanaman yang dapat tumbuh baik pada kondisi ini adalah kelapa, padi, jagung, tebu, tembakau, dan karet.
Jagung pertumbuhannya dipengaruhi oleh ketinggian tempat, yaitu pada 0-700 m.
Jagung pertumbuhannya dipengaruhi oleh ketinggian
tempat, yaitu pada 0-700 m.

b. Daerah iklim sedang (22°C - 17,1°C), berada pada ketinggian 700 - 1500m, baik digunakan untuk tanaman padi, tembakau, tebu, sayuran, dan kopi.

c. Daerah iklim sejuk (17,1°C - 11,1°C), terletak pada ketinggian 1500 m, cocok untuk tanaman kopi, kina, teh, dan sayuran.
d. Daerah iklim dingin (11,1°C - 6,2°C), terletak pada ketinggian lebih dari 2500 m. Ditumbuhi lumut, tidak ada tanaman budidaya.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin rendah suhunya, semakin berkurang pula jenis tanamannya.
 

2. Penggunaan Lahan dan Letak Wilayah

Letak geologis menyebabkan Indonesia memiliki tanah subur. Letak astronomis menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan penyinaran matahari sepanjang tahun. Demikian juga, letak geografis menyebabkan negara Indonesia dipengaruhi oleh angin muson yang membawa pengaruh terhadap perubahan musimnya. Tanah subur dengan iklim yang mendukung serta perubahan musim yang jelas merupakan kondisi yang sangat potensial untuk pengembangan kegiatan pertanian.

3. Penggunaan Lahan dan Topografi Wilayah

Daerah yang memiliki bentuk muka bumi berupa dataran, dapat memberikan beberapa manfaat tersendiri bagi daerah yang bersangkutan, seperti adanya kemudahan dalam hal pengembangan wilayah dan pengembangan sarana dan prasarana transportasi, khususnya transportasi darat. Selain itu, lahan di dataran rendah biasanya banyak digunakan untuk sawah, pemukiman, kegiatan industri, kantor, serta fasilitas sosial lainnya.

Selain itu, keindahan alam di daerah pantai mendorong penduduknya untuk memanfaatkan wilayah pantai untuk usaha perikanan air laut (nelayan), perikanan tambak, usaha tambak garam, perkebunan kelapa, usaha pemanfaatan hutan bakau, serta bagi wilayah-wilayah pantai yang memiliki panorama indah banyak dikembangkan menjadi objek wisata.

Sebaliknya, daerah yang memiliki bentuk muka bumi yang terjal, berbukit-bukit dan bergunung-gunung, banyak memiliki kendala dalam pengembangan wilayahnya, khususnya dalam pengembangan sarana dan prasarana transportasinya. Namun karena daerah tersebut biasanya memiliki suhu udara yang sejuk dan segar, maka banyak yang dikembangkan menjadi daerah wisata, areal perkebunan atau agrowisata.

Kegiatan Ekonomi dan Kaitannya dengan Kondisi Fisik Muka Bumi

Kegiatan ekonomi merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Salah satu cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitarnya. Kegiatan manusia dalam mengolah dan memanfaatkan alam tersebut banyak dipengaruhi oleh kondisi fisik daerah yang bersangkutan.

1. Kegiatan Ekonomi dan Iklim

Pertanian merupakan salah satu kegiatan yang banyak dipengaruhi oleh keadaan iklim setempat. Dalam melakukan aktivitasnya, petani sangat tergantung pada keadaan iklim (curah hujan), seperti dalam penentuan waktu tanam dan panennya. Curah hujan yang kurang atau berlebihan pada saat menanam padi misalnya, akan membawa dampak yang kurang baik terhadap produksinya. Begitu pula jika saat panen tidak diperhitungkan, misalnya panen saat musim hujan, ini pun akan menyulitkan pengeringan padi. Oleh karena itu, petani juga harus memiliki pengetahuan tentang cuaca dan iklim.
Beberapa tanaman stroberi pertumbuhannya dipengaruhi oleh iklim.
Beberapa tanaman stroberi pertumbuhannya
dipengaruhi oleh iklim.

2. Kegiatan Ekonomi dan Letak Wilayah

Letak Indonesia yang berada pada posisi silang lalu lintas perdagangan dunia, secara otomatis menyebabkan Indonesia terlibat dalam aktivitas perdagangan dunia tersebut. Secara langsung atau tidak, hal ini membawa pengaruh terhadap kegiatan perkonomian kita, seperti lahirnya kegiatan ekspor impor dengan negara lain.
Indonesia terletak pada posisi silang lalu lintas perdagangan dunia sehingga terlibat dalam aktivitas perdagangan dunia.
Indonesia terletak pada posisi silang lalu lintas
perdagangan dunia sehingga terlibat dalam aktivitas
perdagangan dunia.

Selain itu, Indonesia yang secara geologis terletak pada pertemuan jalur pegunungan muda dunia, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania, menyebabkan banyak memiliki gunung api yang masih aktif. Akibatnya, negara kita memiliki banyak tanah vulkanik yang subur. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian di bidang pertanian.

3. Kegiatan Ekonomi Penduduk dan Topografi Wilayah

a. Kegiatan Ekonomi Penduduk di Dataran Rendah dan Dataran Rendah Pantai

Banyaknya dataran rendah pantai sebagai akibat dari bentuk wilayah Indonesia yang berupa kepulauan, mengakibatkan Indonesia memiliki garis pantai, yang sangat panjang. Kondisi ini mendorong masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di sekitar pantai, untuk memanfaatkan kekayaan lautnya dengan bermata pencaharian sebagai nelayan, pekerja tambak ikan, pembuat garam, atau bahkan peternak telur penyu. Jika di daerah pantai tersebut dikembangkan kegiatan pariwisata, maka akan mendorong munculnya berbagai kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya, seperti perdagangan, jasa, pemandu wisata, atau penyewaan tempat penginapan (hotel).
Salah satu mata pencaharian yang ada di daerah pantai yaitu beternak telur penyu.
Salah satu mata pencaharian yang ada di
daerah pantai yaitu beternak telur penyu.

b. Kegiatan Ekonomi Penduduk di Dataran Tinggi

Dataran tinggi merupakan lahan datar dengan ketinggian antara 200–1500 meter di atas permukaan air laut. Karena kondisi daerahnya yang datar dengan iklim yang sejuk, menyebabkan dataran tinggi banyak dihuni oleh penduduk. Aktivitas ekonomi di daerah ini pun beragam, apalagi ditambah dengan suhu yang sejuk, mendukung untuk kegiatan perkebunan. Daerah perkebunan yang memiliki daya tarik tersendiri, banyak yang dikembangkan untuk kegiatan wisata (agrowisata).

c. Kegiatan Ekonomi Penduduk di Daerah Pegunungan

Pegunungan merupakan rangkaian dari gunung-gunung yang memanjang dengan ketinggian lebih dari 1500 meter di atas permukaan air laut. Relief yang terjal dengan sumber air yang dalam menyebabkan daerah pegunungan jarang penduduknya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seharihari, biasanya penduduk di daerah pegunungan memanfaatkan hasil hutan, atau berkebun.

Dampak Gejala Hidrosferik terhadap Kehidupan

Luasnya perairan di muka bumi ini memberikan dampak cukup besar terhadap kehidupan di muka bumi. Berikut ini beberapa dampak hidrosferik terhadap kehidupan sosial, budaya, maupun ekonominya, yang antara lain:
  1. Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, sehingga dengan banyaknya air di bumi kehidupan manusia masih terus dapat berlangsung.
  2. Manusia dapat mememenuhi kebutuhan akan air bersih karena adanya air bersih yang tersimpan dalam lapisan tanah (air tanah). Tersedianya air dalam tanah karena adanya curah hujan yang bermula dari adanya penyinaran matahari terhadap lautan. Oleh karena laut merupakan suatu fenomena hidrosfer yang penting bagi kehidupan manusia.
  3. Daerah sekitar sungai biasanya memiliki tanah yang subur hasil pengendapan oleh aliran sungai tersebut (tanah aluvial), sehingga daerah ini sering dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Di samping itu, sungai Pemukiman penduduk di daerah ini biasanya membentuk pola memanjang sepanjang aliran sungai.
  4. Pemukiman penduduk di daerah rawa biasanya berupa rumah-rumah yang didirikan di atas tiang yang tinggi dengan atap dari pepohonan rawa juga (nipah dan rumbia).
  5. Daerah yang memiliki danau biasanya berkembang menjadi daerah pariwisata. Mata pencaharian penduduknya akan berkembang sesuai dengan karakteristik daerah pariwisata.
  6. Air tanah merupakan cadangan air bersih yang ada di bumi. Berkurangnya air tanah menyebabkan berkurangnya persediaan air bersih, yang pada akhirnaya akan mengancam kelangsungan hidup manusia.
  7. Luasnya laut di suatu negara menyebabkan aktivitas ekonomi penduduknya banyak yang bergerak di bidang perikanan (nelayan), tambak udang dan industri garam.
  8. Pantai yang indah mendorong lahirnya industri pariwisata yang tentunya akan diikuti oleh munculnya sektor-sektor ekonomi lainnya, seperti perdagangan, industri dan jasa.
  9. Keberadaan sungai dan laut di suatu daerah atau negara mendorong berkembangnya sarana transportasi air.
Masyarakat yang hidup di daerah sungai, memanfaatkannya sebagai sarana transportasi. (Sumber: Asean, The First 20 Years)
Masyarakat yang hidup di daerah sungai, memanfaatkannya
sebagai sarana transportasi.
(Sumber: Asean, The First 20 Years)

Gejala-gejala Hidrosfer

Hidrosfer berasal dari kata hidros yang berarti ‘air’ dan sphere ‘lapisan’, jadi hidrosfer dapat diartikan sebagai lapisan air. Hidrosfer meliputi semua jenis perairan yang ada di darat, laut, dan di udara. Air bukan merupakan hal yang asing lagi bagi kita, karena setiap saat kita selalu menggunakannya untuk berbagai aktivitas.

1. Siklus Hidrologi

Air yang ada di muka bumi ini jumlahnya tetap, hanya saja wujud dan tempat air tersebut mengalami perubahan dan perpindahan. Karena adanya penyinaran matahari, air yang ada di permukaan laut dan permukaan bumi lainnya mengalami penguapan dan naik. Semakin tinggi suatu tempat, suhunya mengalami penurunan sehingga kemudian berubah menjadi titik-titik air di udara yang mengalami kondensasi dan terbentuklah awan. Pada kondisi tertentu, awan dapat menurunkan hujan. Meskipun hujan dapat terjadi di mana saja, namun akhirnya akan kembali lagi ke laut mengikuti aliran sungai dan sebagian meresap dan tersimpan dalam pori-pori batuan, sehingga menjadi air tanah. Peristiwa itulah yang disebut sebagai siklus hidrologi atau siklus air. Jadi, siklus hidrologi dapat diartikan sebagai serangkaian peristiwa yang berkaitan dengan perubahan air, baik mengenai posisi geografisnya maupun mengenai wujud fisisnya.
Siklus hidrologi (Sumber: Ensiklopedia IPTEK)
Siklus hidrologi (Sumber: Ensiklopedia IPTEK)
Jika kita telaah, ada beberapa peristiwa yang berkaitan dengan siklus hidrologi, yaitu:
 
a. Penyinaran matahari, merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya siklus air. Tanpa adanya penyinaran matahari siklus air tidak akan terjadi.
 
b. Penguapan, yang terjadi akibat dari adanya penyinaran matahari. Penguapan ini dibedakan menjadi:
  1. Transpirasi, yaitu penguapan dari tumbuhan melalui stomata daun.
  2. Evaporasi, yaitu penguapan dari permukaan bumi dan sebagian besarnya dari laut.
  3. Evapotranspirasi, yaitu penguapan dari permukaan bumi dan dari tumbuhan.
c. Kondensasi, yaitu proses perubahan wujud uap air menjadi air karena pendinginan, sehingga terbentuk awan.
 
d. Presifitasi (hujan), yaitu semua bentuk curahan baik dalam bentuk hujan air, hujan salju, maupun hujan es.
 
e. Run off (aliran permukaan), yaitu pergerakan air di permukaan bumi, baik melalui sungai atau anak-anak sungainya.
 
f. Infiltrasi, yaitu peresapan air ke dalam pori-pori batuan yang merupakan sumber terbentuknya air tanah.

2. Air Permukaan

Air permukaan merupakan sejumlah massa air yang terdapat di permukaan bumi, yang meliputi perairan sungai, danau, rawa, dan laut.

a. Sungai

Sungai adalah sejumlah massa air tawar yang mengalir secara alami pada suatu lembah memanjang. Sebuah sungai dengan anak-anak sungainya mengalir pada suatu daerah aliran yang disebut dengan DAS (Daerah Aliran Sungai). DAS adalah sebuah sungai dengan anak-anak sungainya merupakan saluran air dari suatu daerah aliran dan disebut dengan DAS (Daerah Aliran Sungai). Jadi DAS adalah keseluruhan wilayah yang curah hujannya mengalir ke suatu sungai berikut anak-anak sungainya.
Gejala hidrosfer salah satunya yaitu adanya sungai. (Sumber : Microsoft Encarta)
Gejala hidrosfer salah satunya yaitu adanya sungai.
(Sumber : Microsoft Encarta)
Berdasarkan perbedaan ciri-cirinya, DAS dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
  1. DAS hulu, dengan ciri-ciri aliran airnya deras, batuannya berbongkah besar, banyak terdapat jeram, penampang lembah berbentuk huruf V karena erosi yang berperan adalah erosi vertikal, daerahnya bergunung-gunung.
  2. DAS tengah, dicirikan dengan erosi vertikal memiliki peran yang sama kuat dengan erosi lateral dalam membentuk lembah sungai, alirannya tidak terlalu deras, tidak terdapat jeram, terdapat di daerah miring melandai.
  3. DAS hilir, dicirikan dengan alirannya yang lambat, erosi lateral yang berperan dalam pembentukan lembah sehingga bentuk lembah melebar, sungai berkelok-kelok (membentuk meander), batuannya berbutir kasar sampai halus, daerahnya landai.
 
Berdasarkan ketersediaan airnya, sungai dibedakan menjadi:
  1. Sungai Permanen, yaitu sungai yang selalu berair sepanjang tahun.
  2. Sungai Periodik, yaitu sungai yang berair banyak pada saat musim hujan, dan pada musim kemarau airnya berkurang atau menjadi kering
 
Selain itu, sungai dapat dikelompokkan berdasarkan sumber airnya, yaitu:
  1. Sungai Hujan, yaitu sungai yang airnya berasal dari mata air dan air hujan. Hampir sebagian besar sungai di Indonesia termasuk jenis sungai hujan.
  2. Sungai Gletsyer, yaitu sungai yang asal airnya dari pencairan salju/es. Sungai jenis ini terdapat di daerah-daerah yang bersalju, seperti daerah kutub atau daerah pegunungan tinggi yang bersalju.
  3. Sungai Campuran, yaitu sungai yang asal airnya dari air mata air, air hujan, dan pencairan gletsyer. Indonesia memiliki sungai jenis ini, yaitu Sungai Membramo dan Sungai Digul yang terdapat di Papua.
 
Seperti halnya sungai, danau juga memiliki manfaat yang cukup banyak bagi manusia, seperti untuk keperluan irigasi, pembangkit listrik, rekreasi, perikanan, olah raga, dan juga dapat digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari bagi warga sekitarnya.

b. Rawa

Rawa merupakan sebuah cekungan di daratan yang permukaannya selalu tergenang air, akibat permukaan air sejajar atau lebih tinggi dari permukaan tanah. Pada umumnya rawa ditutupi oleh tumbuhan-tumbuhan air. Rawa dapat terjadi karena limpasan air laut ke daratan pada waktu terjadi pasang surut, yang dinamakan rawa pasang surut. Rawa jenis ini terdapat di pantai, seperti di pantai timur Sumatera, pantai selatan Kalimantan, dan di Papua. Ketika air laut surut, permukaan air rawa rendah dan pada waktu air laut pasang, permukaannya naik lagi. Namun, ada pula jenis rawa yang tidak mempunyai pelepasan sehingga rawa ini tidak pernah kering sepanjang tahun, yang disebut rawa abadi.
 
Rawa merupakan cekungan di daratan yang selalu tergenang air. (Sumber: National Geography)
Rawa merupakan cekungan di daratan yang selalu
tergenang air. (Sumber: National Geography)

 
Meskipun rawa memiliki derajat keasaman yang tinggi, namun masih dapat memberikan manfaat, seperti:
  1. dapat digunakan untuk penanaman padi (sawah pasang surut),
  2. menghasilkan beberapa jenis ikan,
  3. hutan mangrove di rawa selain dapat menghasilkan kayu, juga dapat menahan terjadinya abrasi.

c. Laut

Fenomena hidrosfer yang paling luas adalah laut, dimana luasnya ini lebih dari 70% dari luas seluruh permukaan bumi. Laut merupakan kumpulan massa air asin yang terdapat pada sebuah cekungan yang sangat luas. Rasa asin pada air laut disebabkan terdapatnya kandungan garam-garaman (kadar garam/salinitas), yang salah satunya adalah NaCl (Natrium Khlorida) atau yang kita kenal sebagai garam dapur. Kadar garam air laut yang nor mal adalah 35%. Banyaknya sungai yang mengalir ke laut dan tingginya curah hujan di Indonesia, menyebabkan perairan Indonesia mempunyai kadar garam yang rendah.
Laut merupakan fenomena hidrosfer yang sangat luas. (Sumber : Ensiklopedia IPTEK)
Laut merupakan fenomena hidrosfer yang sangat luas.
(Sumber : Ensiklopedia IPTEK)
Berdasarkan kedalamannya, laut dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
  1. Zona Litoral, yaitu daerah pantai yang merupakan tempat pasang surutnya air laut.
  2. Zona Neritik, yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman tidak lebih dari 200 meter. Zona ini memiliki kekayaan laut yang paling banyak. Sampai kedalaman 200 meter, sinar matahari masih dapat mencapai dasar laut, sehingga mendukung perkembangan biota lautnya.
  3. Zona Bathyal, yaitu wilayah laut pada kedalaman antara 200 meter sampai 2000 meter.
  4. Zona Abisyal, yaitu wilayah laut dengan kedalaman lebih dari 2000 meter.
 
Berdasarkan letaknya, laut dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
  1. Laut Tepi, yaitu laut yang terdapat di tepi benua yang dipisahkan dari lautan luas oleh gugusan pulau-pulau atau semenanjung. Contoh: Laut Jepang yang terhalang oleh Kepulauan Jepang, Laut Cina Selatan yang terhalang oleh Kepulauan Filipina dan Indonesia, dan Laut Karibia yang terhalang oleh Kepulauan Antiles Besar.
  2. Laut Tengah, yaitu laut yang terletak di antara dua benua. Contoh: Laut Mediteran yang terletak antara benua Eropa dan benua Afrika dan Laut Merah yang terletak antara benua Afrika dan benua Asia.
  3. Laut Pedalaman, yaitu laut terletak di tengah-tengah benua dan hampir seluruhnya dikelilingi daratan. Contoh: Laut Hitam, Laut Kaspia, dan Laut Baltik.
 
Mengingat wilayah laut satu negara dengan negara lainnya saling berbatasan langsung, maka perlu adanya pengukuhan mengenai batas-batas laut tersebut yang diakui oleh semua negara, khususnya negara-negara tetangga. Hal ini perlu dilakukan karena berkaitan dengan pertahanan dan keamanan negara serta pemanfaatan kekayaan lautnya. Melalui serangkaian perjanjian dan persetujuan dengan negara-negara tetangga, maka didapat kesepakatan mengenai batas-batas perairan Indonesia, baik itu menyangkut batas teritorial, batas landas kontinen, maupun pada wilayah laut Zone Ekslusif Ekonomi (ZEE).
 
1) Laut Teritorial
Laut teritorial merupakan batas wilayah perairan yang diukur sejauh 12 mil dari garis dasar. Garis dasar adalah garis hayal yang menghubungkan pulau-pulau terluar Indonesia. Perpu No.4 tahun 1960 menjamin adanya hak lintas damai bagi kapal-kapal asing di perairan Indonesia, yang sebelumnya berlaku hak lintas bebas. Artinya, bagi kapal-kapal asing yang akan lewat perairan teritorial Indonesia harus mempunyai izin resmi dari pemerintah Indonesia.

2) Batas Landas Kontinen
Landas kontinen merupakan wilayah laut yang merupakan kelanjutan dari sebuah benua, sehingga biasanya merupakan laut dangkal. Dalam penentuan batas landas kontinen Indonesia didasarkan hasil perjanjian dan persetujuan dengan negaranegara tetangga. Hal ini dilakukan mengingat wilayah perairan Indonesia berbatasan dengan perairan beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, Asutralia, Singapura, dan India.
 
3) Zone Ekonomi Ekslusif (ZEE)
Zone Ekonomi Ekslusif merupakan wilayah laut yang diukur sejauh 200 mil dari garis dasar ke arah laut lepas. Oleh karena itu, negara Indonesia pun memiliki ZEE seluas 200 mil, sesuai pengumuman dari pemerintah Indonesia pada tanggal 21 Maret 1980. ZEE memberikan hak ekslusif bagi negara yang memilikinya dalam pemanfaatan semua sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Namun di sini tidak ada hak politis. Artinya, lalu lintas laut dan pemasangan kabel bawah laut masih diperkenankan selama tidak melanggar hukum laut internasional.
 
Beberapa manfaat laut bagi kehidupan manusia antara lain:
  1. menghasilkan berbagai sumber daya, seperti ikan, kerang, mutiara, dan rumput laut. Begitu juga, minyak bumi dan gas alam banyak ditemukan di laut.
  2. untuk kegiatan pariwisata
  3. untuk industri garam
 

d. Air Tanah

Berdasarkan letaknya, air tanah dibedakan menjadi air tanah dangkal (freatis) dan air tanah dalam.
  1. Air tanah dangkal adalah air tanah yang tersimpan pada lapisan tanah teratas yang tembus air (permeabel). Kandungan air tanah dangkal sangat dipengaruhi oleh banyak tidaknya peresapan air.
  2. Air tanah dalam adalah air tanah yang tersimpan di antara dua lapisan batuan yang impermeabel (tidak tembus air). Sumur artesis yang banyak digunakan oleh industri-industri merupakan pemanfaatan air tanah dalam.
 
Air tanah memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia karena merupakan cadangan air bersih.

e. Pantai dan Pesisir

Terkadang orang mengartikan istilah pantai sama dengan pesisir. Padahal, yang dimaksud dengan pantai adalah daerah yang meliputi pesisir sampai daerah yang lebih jauh ke arah daratan, meskipun batasnya masih kurang jelas. Sedangkan pesisir, merupakan daerah pertemuan daratan dengan lautan, dimulai dari batas air laut pada saat pasang surut terendah menuju ke arah darat sampai batas tertinggi yang mendapat pengaruh gelombang pada waktu badai. Oleh karena itu, pesisir merupakan bagian dari pantai.
Terjadinya pasang-surut air dapat menyebabkan pengikisan pantai. (Sumber: Ensiklopedia IPTEK)
Terjadinya pasang-surut air dapat menyebabkan pengikisan pantai.
(Sumber: Ensiklopedia IPTEK)
Bentuk pantai dapat mengami perubahan. Perubahan pada bentuk pantai ini dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti:
  1. adanya tenaga eksogen seperti gelombang dan arus laut, serta terjadinya pasang surut air laut yang dapat menyebabkan pengikisan pantai,
  2. adanya tenaga endogen yang menyebabkan adanya penaikan dan penurunan kulit bumi di pantai,
  3. aktivitas manusia, seperti pengeringan rawa, pembuatan pelabuhan, dan pengerukan muara sungai.
 
Berdasarkan bentuknya, pantai dibedakan menjadi:
  1. Pantai landai, yaitu pantai yang memiliki topografi hampir datar, contohnya pantai Parangtritis dan pantai Pangandaran
  2. Pantai curam, yaitu pantai yang topografinya bergununggunung, karena hantaman ombak yang besar, terbentuklah tebing-tebing yang curam dan laut yang dalam. Contoh: pantai selatan Pulau Jawa dan pantai barat Pulau Sumatra.
  3. Pantai bertebing, yaitu pantai yang curam di muka tebingnya, akibat abrasi. Hasil abrasi diendapkan di sekitarnya sehingga lautnya dangkal. Pantai ini disebut pula flaise.
  4. Pantai karang, yaitu pantai yang di sepanjangnya terdapat batu-batu atau pulau-pulau karang. Contoh: pantai Maluku, pantai Nusa Tenggara, dan pantai Sulawesi.
 

f. Ekosistem Pantai

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem terpenting di daerah pantai. Karena garis pantai Indonesia yang terpanjang di dunia, maka Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, yaitu sekitar 4.250.000.000 ha. Ekosistem pantai ini dihuni oleh sejumlah species makhluk hidup antara lain memiliki keuntungan tersendiri bagi keadan sosioekonomi yang tinggi dalam hal perikanan dan melindungi pantai dari abrasi air laut.

Pohon bakau dan pohon nipah banyak tumbuh di dataran rendah dan pantai yang banyak lumpurnya. Pohon bakau mempunyai akar (akar nafas) yang muncul di atas permukaan air waktu air laut surut dan terendam saat air laut surut.
Gejala Hidrosfer
Gejala Hidrosfer

Dampak Gejala Atmosferik terhadap Kehidupan

Secara langsung maupun tidak langsung, cuaca dan iklim suatu daerah memberikan pengaruh yang cukup besar pada berbagai aktivitas kehidupan manusia, baik itu pada kegiatan mata pencaharian penduduknya maupun pada kondisi sosial budayanya. Berikut ini beberapa contoh dampak gejala atmosferik terhadap kehidupan:
 

1. Dampak Gejala Atmosferik terhadap Kekayaan Hayati

Daerah yang memiliki iklim tropis dengan kelembapan tinggi, memiliki kekayaan hayati sangat banyak. Kekayaan hayati yang banyak mendorong munculnya kegiatan-kegiatan yang memanfaatkan dan mengolah sumber daya tersebut, seperti industri, perdagangan, perhutanan, kerajinan tangan, dan lain-lain.

2. Dampak Gejala Atmosferik terhadap Pertanian

Dalam pelaksanaan kegiatan pertanian sangat dipengaruhi oleh perubahan cuaca atau musim. Tiap jenis tanaman memerlukan kondisi cuaca yang berbeda-beda sehingga jenis tanaman yang dibudidayakan di tiap daerah bisa berbeda-beda. Ada tanaman yang memerlukan pengairan banyak saat menanam, ada pula yang tanaman yang hanya membutuhkan sedikit air pada penanamannya. Oleh karena itu, petani juga harus memiliki kemampuan untuk memperkirakan saat tanam dan saat panen supaya produksi pertaniannya dapat optimal.

3. Dampak Gejala Atmosferik terhadap Nelayan Tradisional

Adanya angin darat dan angin laut memiliki keuntungan sendiri bagi para nelayan, khususnya nelayan tradisional. Nelayan tradisional biasanya masih menggunakan perahu layar, sehingga untuk menggerakan perahunya memanfaatkan gerakan angin.
 

4. Dampak Atmosferik terhadap Bidang Komunikasi

Adanya lapisan ionosfer di atmosfer yang dapat memantulkan gelombang radio yang dipancarkan oleh sebuah pemancar, menyebabkan siaran radio dapat diterima di tempattempat yang cukup jauh letaknya. Begitu pula, cuaca yang kurang bagus akan menyebabkan terganggunya siaran televisi, radio, telepon, atau peralatan lainnya yang menggunakan satelit.

5. Dampak Gejala Atmosferik terhadap Persebaran Penduduk

Iklim mempunyai pengaruh juga terhadap penyebaran penduduknya. Biasanya aglomerasi penduduk terjadi di daerah dengan kondisi iklim yang mendukung kehidupannya. Daerah gurun memiliki penduduk yang sangat jarang karena persediaan airnya sangat kurang.
Orang Eskimo

6. Dampak Gejala Atmosferik terhadap Budaya

Pengaruh iklim terhadap budaya dapat kita lihat antara lain pada bentuk rumah dan pakaiannya. Di daerah pedalaman dengan iklim tropis basah misalnya, penduduknya memanfaatkan apa yang tersedia di hutan untuk bahan bangunannya, seperti atap rumbia atau daun palma. Selain itu, rumah tersebut biasanya didirikan di atas tiang supaya terhindar dari banjir, aman dari serangan binatang buas, serta tidak terlalu panas. Iklim juga mempengaruhi cara berpakaian penduduknya. Orang Eskimo yang tinggal di daerah kutub menggunakan pakaian yang tebal karena iklimnya yang sangat dingin.

Suhu Udara

Perbedaan suhu udara yang diterima oleh setiap tempat di permukaan bumi, dipengaruhi faktor berikut.

a. Lamanya Penyinaran Matahari

Semakin lama matahari memberikan sinarnya pada suatu tempat di permukaan bumi, makin banyak panas yang diterima, dan suhunya semakin tinggi.

Wilayah yang beriklim tropis memiliki suhu udara paling tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di permukaan bumi, karena wilayah ini mendapat penyinaran matahari sepanjang tahun.
Penyinaran matahari yang berlangsung lama menyebabkan suhu udara menjadi tinggi. (Sumber: Microsoft Encarta)
Penyinaran matahari yang berlangsung lama menyebabkan
suhu udara menjadi tinggi. (Sumber: Microsoft Encarta)

b. Ketinggian Tempat

Semakin tinggi suatu tempat di permukaan bumi, suhunya semakin dingin. Penurunan suhu ini diperkirakan sebesar 0,5 – 0,6°C setiap kenaikan tempat 100 meter. Hubungan perbandingan antara kenaikan dan penurunan suhu dengan ketinggian tempat, disebut sebagai gejala gradien ketinggian. Untuk dapat mengetahui suhu udara di suatu tempat, maka kita harus tahu dulu suhu rata-rata dan ketinggian tempatnya.

c. Letak Lintang Tempat

Sudut datang pancaran sinar matahari dapat mempengaruhi tingkat pemanasan permukaan bumi. Semakin tegak cahaya matahari datang di suatu daerah, semakin besar pula efek panas matahari yang diterima oleh permukaan bumi di daerah itu, sehingga menyebabkan kondisi suhunya semakin tinggi.

Daerah di permukaan bumi yang menerima pemanasan sinar matahari secara tegak, yaitu dengan sudut datang 90°, adalah daerah-daerah yang terletak di lintang tinggi. Daerah-daerah yang termasuk lintang tinggi, yaitu tempat-tempat yang terletak di sekitar wilayah khatulistiwa.

d. Derajat Keawanan

Awan mempunyai fungsi mengurangi radiasi dari matahari ke bumi dan mengurangi panas yang berasal dari bumi ke atmosfer. Awan mempunyai efek seperti rumah kaca (green house effect). Artinya, awan dapat menahan panas yang dipancarkan bumi. Oleh karena itu, daerah yang selalu berawan, suhunya rendah. Sebaliknya, daerah yang selalu cerah, suhunya tinggi.
Suhu udara akan terasa lebih sejuk jika berawan. (Sumber: Microsoft Encarta)
Suhu udara akan terasa lebih sejuk jika berawan.
(Sumber: Microsoft Encarta)

e. Bentuk Permukaan Bumi

Bentuk-bentuk muka bumi memiliki sifat yang berbeda-beda dalam menerima panas sinar matahari. Sifat permukaan bumi daratan lebih cepat menerima panas dan memancarkan kembali panas itu dengan cepat, jika dibandingkan dengan permukaan laut. Oleh karena itu, daerah yang terletak di pedalaman yang jauh dari pengaruh angin laut (gurun pasir) pada siang hari suhunya sangat tinggi.

f. Tekanan Udara

Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan udara pada suatu titik daerah di permukaan bumi. Mengapa udara memberikan tekanan kepada permukaan bumi? Karena udara tersebut memiliki massa dan menempati ruang. Besarnya tekanan udara dapat diukur dengan menggunakan barometer. Barometer ini ada yang menggunakan zat cair, disebut barometer air raksa, dan ada pula yang tanpa zat cair, disebut barometer aneroid.
Contoh alat pengukur tekanan udara. (Sumber: Jendela Iptek)
Contoh alat pengukur tekanan udara.
(Sumber: Jendela Iptek)

Tekanan udara sangat dipengaruhi oleh kondisi suhunya. Bila kondisi suhunya rendah, maka tekanan udaranya tinggi. Sebaliknya, bila suhunya tinggi, kondisi tekanan udaranya rendah. Naik turunnya tekanan udara akan tergambar pada barometer dalam bentuk barogram. Satuan yang digunakan untuk mengukur tekanan udara adalah bar, dimana 1 bar = 1000 milibar (mb) atau setara dengan satu atmosfer (1 atm = 1013 mb).

g. Kelembapan Udara

Kelembapan udara, adalah banyaknya kandungan uap air yang terdapat dalam udara. Kelembapan udara sering disebut juga dengan istilah kelengasan udara atau kebasahan udara. Udara dikatakan lembap jika kandungan uap airnya banyak, dan sebaliknya, udara dikatakan kurang lembap jika kandungan airnya kurang. Kelembapan udara dapat diukur dengan menggunakan alat higrometer atau higrograf.

Untuk menyatakan kelembapan udara, dapat digunakan dua cara, yaitu kelembapan udara mutlak atau absolut dan kelembapan udara nisbi atau relatif.
  • Kelembapan Mutlak atau absolut, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan berat uap air dalam tiap volume udara. Berat uap air dinyatakan dalam gram dan volumenya dinyatakan dalam liter atau m³, sehingga satuannya dinyatakan dalam gram/liter atau gram/m³. Jadi, jika dalam satu m³ udara terdapat 25 gram uap air, artinya kelembapan mutlaknya adalah 25 gram/m³. Daerah yang mempunyai kelembapan mutlak tertinggi terletak di sekitar pantai yang berdekatan dengan lautan. Kelembapan mutlak terendah di wilayah gurun pasir.
Daerah pantai memiliki kelembapan yang tinggi. (Sumber: Microsoft Encarta)
Daerah pantai memiliki kelembapan yang tinggi.
(Sumber: Microsoft Encarta)
Kelembapan nisbi atau relatif, yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara banyaknya uap air yang benar-benar terdapat dalam udara dengan jumlah uap air maksimum yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada suhu yang sama. Kelembapan ini dinyatakan dalam persen (%).
Daerah gurun memiliki kelembapan yang sangat rendah. (Sumber: Microsoft Encarta)
Daerah gurun memiliki kelembapan yang sangat rendah.
(Sumber: Microsoft Encarta)

 h. Angin

Pergerakan angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara. Perbedaan tekanan udara terjadi karena adanya perbedaan suhu udara sebagai akibat dari perbedaan pemanasan matahari di permukaan bumi. Semakin besar perbedaan tekanan udaranya, makin besar pula anginnya. Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan anemometer. Sedangkan untuk melihat arah angin, dapat menggunakan sisip angin atau windsock.

Pemberian nama-nama angin, biasanya menurut asal datangnya, seperti angin barat, yaitu angin yang berasal dari arah barat menuju ke timur. 
Angin di daerah pantai. (Sumber: Microsoft Encarta)
Angin di daerah pantai. (Sumber: Microsoft Encarta)

Anemometer (Sumber: Jendela Iptek)
Anemometer (Sumber: Jendela Iptek)

i. Hujan

Hujan merupakan salah satu unsur pembentuk cuaca dan iklim yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Hujan terjadi akibat adanya penguapan, yang kemudian terjadi pengembunan dan membentuk kumpulan titik-titik air di udara (awan). Setelah kandungan titik-titik air di awan tadi makin banyak dan semakin berat, maka turunlah hujan. Besarnya curah hujan dapat diukur dengan menggunakan rain gage, ombrometer atau ombrograf.

Berdasarkan cara terjadinya, hujan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

1) Hujan Zenithal

Hujan zenithal adalah hujan yang terjadi akibat naiknya massa udara secara vertikal (massa udara bergerak secara konveksi). Sebagaimana diketahui, semakin tinggi suatu tempat suhunya makin dingin, sehingga pada ketinggian tertentu terbentuklah awan dan menurunkan hujan zenithal. Oleh karena awan terbentuk akibat gerakan udara secara konveksi, maka hujan ini disebut juga hujan konveksi.

2) Hujan Orografis

Hujan orografis adalah hujan yang terjadi di daerah pegunungan. Akibat gerakan udara secara horizontal terhalang oleh adanya pegunungan, menyebabkan massa udara ini dipaksa naik lereng pegunungan. Semakin tinggi pegunungan tersebut, makin rendah pula suhunya, sehingga terbentuklah awan dan menurunkan hujan di lereng pegunungan tersebut.

3) Hujan Frontal

Hujan frontal adalah hujan yang terjadi di daerah front. Daerah front merupakan daerah tempat pertemuan massa udara panas dengan massa udara dingin. Pertemuan kedua massa udara tersebut menyebabkan terjadinya kondensasi sehingga terbentuk awan yang menurunkan hujan frontal.

j. Awan

Awan merupakan fenomena yang sering kita lihat sebelum terjadinya hujan. Awan yang tebal dan hitam menunjukkan dalam waktu yang tidak lama lagi hujan akan turun. Awan terdiri atas kumpulan titik-titik air dalam udara akibat adanya pengembunan (kondensasi). Pada awan terdapat muatan listrik bertegangan tinggi. Jika terjadi pertemuan dua muatan listrik yang berlawan kutub, akan terjadi sebuah kilatan di angkasa (kilat) yang disertai dengan suara menggelegar (guntur/petir).

Cumulo Nimbus merupakan awan tebal yang dapat
menurunkan hujan dengan kilat dan guntur.
(Sumber : Ensiklopedia IPTEK)

Cuaca dan Iklim

a. Cuaca

Cuaca adalah rata-rata keadaan atmosfer pada waktu tertentu yang relatif singkat dan meliputi wilayah sempit. Adapun keadaan atmosfer ditandai dengan adanya proses dan perubahan yang terjadi pada gejala-gejala atmosfer, seperti suhu, tekanan, dan kelembapan udara, curah hujan, tingkat keawanan, kecepatan, dan arah angin.
Keadaan cuaca di daerah pertanian.
Keadaan cuaca di daerah pertanian.
Keadaan cuaca di tempat penggilingan padi.
Keadaan cuaca di tempat penggilingan padi.

b. Iklim

Apa yang dimaksud dengan iklim? Iklim menurut Glenn T. Trewarta adalah susunan atau keadaan umum kondisi cuaca. Dengan kata lain, iklim merupakan kelanjutan daripada hasil pencatatan keadaan cuaca dari hari ke hari dalam waktu yang lama, biasanya dalam waktu 26 tahun.

Dalam menentukan klasifikasi iklim di permukaan bumi, para ahli ada yang mendasarkannya pada garis lintang, suhu dan curah hujan, perbandingan rata-rata bulan basah dan bulan kering, dan berdasarkan ketinggian tempat. Perubahan iklim berlangsung dalam waktu yang lama dan meliputi wilayah yang luas.

Jadi, perbedaan antara cuaca dan iklim hanya terletak pada waktu dan cakupan luas wilayahnya. Sedangkan unsur-unsur pembentuk cuaca dan iklimnya sama, yaitu unsur suhu, tekanan, kelembaban, angin, curah hujan, dan awan.

Gejala-gejala Atmosfer

Perubahan kondisi cuaca pada waktu-waktu yang berbeda. (Sumber: Dokumentasi Penerbit)
Perubahan kondisi cuaca pada waktu-waktu yang berbeda.
Bagaimanakah cuaca hari ini? Cerah, mendung, atau hujankah? Biasanya cuaca dikatakan cerah jika penyinaran matahari terhadap bumi tidak dihalangi oleh tebalnya awan. Sebaliknya, jika pancaran sinar matahari ke bumi terhalang oleh lapisan awan yang tebal, menyebabkan cuaca menjadi mendung.
Untuk mempelajarinya lihat bagan berikut:
Atmosfer
Atmosfer

a. Sifat Fisik Atmosfer

Atmosfer, merupakan lapisan udara yang menyelimuti bola bumi, berisi campuran unsur-unsur gas. Dalam keadaan udara kering komposisi unsur-unsur gas yang terdapat pada atmosfer terdiri atas unsur nitrogen (N2) 78%, oksigen (O2) 21%, carbon dioksida (CO2) 0,3%, argon (Ar) 1%, dan sisanya unsur gas lain seperti: ozon (O3), hidrogen (H), helium (He), neon (Ne), xenon (Xe), krypton (Kr), radon (Rn), metana, dan ditambah unsur uap air dalam jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan ketinggian tempat.

Atmosfer Bumi (Sumber: Ensiklopedia Iptek)
Atmosfer Bumi (Sumber: Ensiklopedia Iptek)
Atmosfer diduga mempunyai ketebalan 1.000 km mulai dari batas permukaan bumi sampai batas jarak di atasnya. Sifat fisik lain dari atmosfer ini adalah dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Jadi, atmosfer pun ikut berputar bersama-sama bumi setiap hari (rotasi) serta beredar mengililingi matahari setiap tahun (evolusi).

b. Manfaat Atmosfer bagi Kehidupan

Atmosfer memiliki peran yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi. Unsur-unsur gas yang terdapat dalam atmosfer seperti gas oksigen (O₂) dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bernapas sebagian makhluk hidup, gas hidrogen (H₂) dimanfaatkan untuk proses pembakaran, gas nitrogen (N₂) dimanfaatkan untuk kesuburan tanaman.

Demikian juga lapisan Ozon (O₃) yang terbentuk di atmosfer dapat menyaring efek radiasi elektromagnetik yang berasal dari pancaran sinar matahari dan benda-benda angkasa lainnya yang sangat berbahaya bagi kelangsungan makhluk hidup di muka bumi, contohnya seperti radiasi sinar ultra violet, infra merah, dan sinar x.

c. Struktur Atmosfer

Batas dari setiap lapisan udara pada atmosfer sulit untuk dipastikan dengan tepat karena gas memiliki sifat tidak berwarna dan tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Namun, dengan bantuan pemantauan alat bantu cuaca yang berteknologi tinggi, seperti satelit cuaca, batas dan ketebalan dari tiap bagian lapisan atmosfer dapat dilacak.

Dari hasil penelitian tersebut, para ahli juga dapat menentukan ketinggian setiap bagian lapisan atmosfer dari bumi, walaupun sifat dari ketinggian tersebu selalu berubah-ubah tergantung kepada kondisi musim, letak lintang, dan waktu yang berlaku di berbagai tempat di muka bumi.

Bagian lapisan udara yang terdapat di atmosfer antara lain:

1) Troposfer

Lapisan troposfer merupakan lapisan udara yang paling berpengaruh terhadap kehidupan di muka bumi. Lapisan udara ini terletak di bagian paling bawah dari lapisan atmosfer yang langsung bersinggungan dengan permukaan bumi. Ketebalan lapisan troposfer berbeda-beda di setiap tempat di permukaan bumi. Hal ini bergantung pada faktor kondisi musim, letak lintang tempat, dan waktu yang berlaku di bumi.

Lapisan-lapisan atmosfer bumi (Sumber: Jendela Iptek)
Lapisan-lapisan atmosfer bumi
(Sumber: Jendela Iptek)
Ciri-ciri sifat fisik dari lapisan troposfer, antara lain:
  • tempat kandungan massa udara atau unsur-unsur gas terbesar yang berguna bagi makhluk hidup di bumi,
  • tempat terjadinya peristiwa-peristiwa cuaca, seperti perubahan suhu dan tekanan udara, angin, badai, embun hasil penguapan, pengawanan, pembentukan salju, hujan, dan petir,
  • tempat terjadinya penurunan suhu secara vertikal menurut gradien termis, artinya pada lapisan ini setiap kenaikan 100 meter, maka suhu udara akan turun antara 0,5° Celcius sampai 0,6° Celcius,
  • memiliki lapisan udara yang bergerak memutar,
  • berfungsi sebagai lapisan penghantar suara. Coba berikanlah contohnya!

2) Stratosfer

Lapisan stratosfer terdapat di atas lapisan troposfer yang dibatasi oleh lapisan tropopause antara keduanya. Lapisan stratosfer mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kelangsungan hidup semua makhluk hidup di permukaan bumi karena pada lapisan ini ozon terbentuk dan berfungsi menyerap sebagaian besar radiasi ultra violet, infra merah, dan sinar x dari cahaya matahari sebelum menyentuh permukaan bumi.

Ciri-ciri sifat fisik lapisan stratosfer, antara lain:
  • mempunyai rata-rata ketinggian antara 11–48 km dari permukaan laut,
  • pada lapisan paling bawah yang berbatasan dengan tropopause, suhu udara lebih dingin dan mengandung butir-butir belerang (sulfat) yang berfungsi membantu pembentukan hujan pada lapisan troposfer,
  • secara keseluruhan pada lapisan ini tidak terdapat uap air, debu, awan, hujan, petir dan angin kencang.

3) Mesosfer

Lapisan mesosfer adalah lapisan yang terletak di atas lapisan stratosfer yang dibatasi oleh lapisan yang disebut stratopause dengan ketinggian antara 48 – 80 km dari atas permukaan laut. Pada lapisan mesosfer juga terjadi pemantulan kembali gelombang-gelombang radio ke bumi.

Sifat fisik lapisan atmosfer adalah kepadatan unsur-unsur gasnya berkurang, sedangkan kondisi temperaturnya menurun dengan bertambah ketinggian, sehingga pada bagian paling atas dari lapisan mesosfer ini, diperkirakan suhunya mencapai –10° C.

4) Termosfer

Lapisan termosfer adalah lapisan yang terletak di atas lapisan mesosfer pada ketinggian antara 80 – 482 km di atas permukaan laut. Antara lapisan termosfer dan lapisan mesosfer yang terletak di bawahnya dibatasi oleh lapisan yang disebut mesopouse.

Pada lapisan termosfer terdapat dua lapisan yang memegang peranan penting dalam hubungan radio, yaitu
lapisan E atau disebut lapisan Kennely-Heaviside dan lapisan F atau lapisan Appleton. Kedua lapisan ini berfungsi sebagai penangkap dan pemantul berbagai gelombang radio yang dipancarkan dari bumi dan dipantulkan kembali ke bumi, sehingga berbagai siaran radio dari pemancar yang jauh letaknya dapat didengarkan pada radio kita di rumah.

Ciri khas dari lapisan termosfer, yaitu memiliki temperatur yang sangat tinggi (termo artinya panas, dan sfer artinya lapisan). Pada ketinggian 480 km dari permukaan laut, kondisi temperatur lapisan termosfer mencapai 1.232° C.

5) Lapisan Eksosfer

Bagian lapisan terakhir dari atmosfer bumi adalah lapisan eksosfer atau lapisan disipasisfer, lapisan ini merupakan bagian dari lapisan atmosfer bumi terluar, terletak pada ketinggian antara 482 - 1.000 km di atas permukaan laut.

Ciri fisik lapisan eksosfer, yaitu komposisi udaranya didominasi oleh butir-butir gas hidrogen (H₂) yang sangat tipis, tetapi masih mampu menghancurkan berbagai benda angkasa luar yang mencoba masuk dan melewatinya walaupun dalam skala kecil (ingat proses gesekan). Karena komposisi gas pada lapisan ini sangat sedikit mengakibatkan antara satu partikel gas dengan partikel gas lainnya jarang bersinggungan. Maka dapat kita simpulkan bahwa kondisi suhu pada lapisan ini sangatlah dingin.

Karena pengaruh gravitasi bumi pada lapisan eksosfer hampir tidak terasa, terutama pada bagian lapisan paling atas (magnetopouse), maka butir-butir gas yang ada pada lapisan ini dapat dengan mudah meloloskan diri ke ruang angkasa luar.

Kondisi Geografis dan Penduduk

Dalam usaha memahami perkembangan lingkungannya, diharapkan manusia dapat mengenali unsur-unsur lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupannya, baik unsur fisik (alam) maupun unsur sosial. Unsur lingkungan fisik disebut sebagai kondisi geografis, sedangkan unsur lingkungan sosial dalam ilmu geografi lebih mengarah kepada kondisi penduduk yang dipengaruhi kondisi geografisnya. Oleh karena itu keterkaitan antara kondisi geografis dengan kondisi penduduknya sangat erat. Kondisi geografis dan penduduk tiap wilayah di permukaan bumi berbeda-beda, hal ini tergantung kepada kuantitas dan kualitas unsur pendukung lingkungan yang ada pada suatu wilayah. Untuk memahami lebih jauh tentang kondisi geografis dan penduduk sekitar lingkungan kita, kalian kaji materi pelajaran berikut!

1. Kondisi Geografis suatu Wilayah

Yang termasuk unsur-unsur lingkungan fisik geografis meliputi unsur letak, relief, cuaca dan iklim, jenis tanah, flora dan fauna, sumber daya air dan kelautan, serta sumber daya mineral. Unsur-unsur ini mempengaruhi corak kehidupan manusia, oleh karena itu harus kita kenali ciri-cirinya. Dengan memahami ciri-ciri unsur lingkungan fisik geografis suatu wilayah, maka kita dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, bahkan dapat memanfaatkan sumber daya alam lingkungan secara optimal untuk kepentingan hidup. Berkaitan dengan usaha memahami ciri-ciri unsur lingkungan fisik geografis suatu wilayah, kita coba menerapkannya dalam mengkaji kondisi geografis wilayah Indonesia. Untuk itu, kalian perhatikan peta berikut!
Letak geografis Indonesia pada peta ASEAN (Sumber: Atlas Indonesia dan Dunia, Lintas Media Jombang)
Letak geografis Indonesia pada peta ASEAN (Sumber: Atlas Indonesia dan Dunia, Lintas Media Jombang)

a. Letak

Kondisi letak suatu wilayah biasanya berhubungan dengan unsur lokasi, posisi, batas, bentuk, dan luas. Setelah kalian mengamati peta ASEAN di atas, maka kalian akan memperoleh fakta tentang kondisi letak geografis wilayah Indonesia sebagai berikut.
  1. Lokasi wilayah Indonesia berada di kawasan Asia Tenggara.
  2. Posisi astronomis wilayah Indonesia berada di antara 60LU-110LS dan 950BT-1410BT.
  3. Posisi geografis wilayah Indonesia berada di antara Benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
  4. Batas-batas wilayah Indonesia, sebelah utara dengan Laut Andaman, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Cina Selatan, negara Malaysia, negara Filipina, Laut Sulawesi, dan Samudra Pasifik. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, Laut Timor, negara Timor Leste, dan Laut Arafura. Di sebelah barat berbatasan dengan Samudra Hindia, dan di sebelah timur berbatasan dengan negara Papua Nugini.
  5. Wilayah negara Indonesia berbentuk Kepulauan (archipelago) dengan jumlah seluruh pulaunya 17.504 buah.
  6. Luas wilayah Indonesia 5.193.252 km2, terbagi atas wilayah daratan seluas 1.904.569 km2 dan wilayah lautan seluas 3.288.683 km2. Sehingga perbandingan antara luas wilayah daratan dan lautan 2:3.

b. Relief

Relief atau topografi, adalah keadaan tinggi-rendahnya bentuk permukaan bumi. Penampakan alam yang berhubungan dengan relief wilayah daratan terdiri atas pegunungan, gunung, dataran tinggi, dataran rendah, lembah, dan dataran pantai. Sedangkan relief wilayah perairan daratan berupa danau, sungai, rawa, teluk, selat, dan terusan. Penampakan alam relief wilayah perairan laut atau relief dasar laut, terdiri atas bentuk paparan benua, lereng benua, lubuk laut, palung laut, punggung laut, ambang laut, dan gunung laut. Coba, kalian cari pengertian istilah-istilah relief dasar laut tersebut!

Penampakan alam bentuk relief suatu wilayah di permukaan bumi pada peta, sering disajikan dalam bentuk tampilan simbol-simbol warna. Masih ingatkah kalian dengan materi pelajaran tentang bentuk-bentuk simbol warna? Coba, kalian perhatikan contoh peta relief wilayah Indonesia di bawah ini!

Peta relief wilayah Indonesia (Sumber: Atlas Geografi Indonesia dan Dunia, Pustaka Ilmu)
Peta relief wilayah Indonesia (Sumber: Atlas Geografi Indonesia dan Dunia, Pustaka Ilmu)
Dengan memperhatikan peta relief wilayah Indonesia di atas, maka kalian akan mendapatkan informasi tentang kondisi relief wilayah Indonesia, antara lain.

1) Berdasarkan reliefnya, bentuk muka bumi Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu:
  • relief wilayah Indonesia Barat, meliputi kawasan Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan perairan di sekitarnya. Relief dasar laut wilayah perairan ini disebut Paparan/Dangkalan Sunda dengan kedalaman kurang dari 200 m.
  • relief wilayah Indonesia Tengah, meliputi kawasan Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, dan perairan sekitarnya. Relief dasar laut wilayah ini merupakan laut dalam di atas 200 m.
  • relief wilayah Indonesia Timur, meliputi kawasan Kepulauan Aru, Pulau Misool, Pulau Salawat, Pulau Arafura, Kepulauan Tanimbar, Pulau Papua, dan perairan sekitarnya. Relief dasar laut wilayah ini disebut Paparan/Dangkalan Sahul dengan kedalaman kurang dari 200 m.

2) Relief daratan Indonesia didominasi oleh relief berupa.
  • Pegunungan, yaitu bagian muka bumi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya dengan bentuk memanjang.
  • Gunung, yaitu bagian muka bumi yang lebih tinggi daerah sekitarnya dengan bentuk seperti bidang kerucut.
  • Dataran Tinggi, adalah wilayah permukaan bumi yang lebih tinggi dari daerah sekitar dan pada bagian atasnya mendatar.
  • Dataran Rendah, yaitu bagian permukaan bumi yang lebih rendah dari daerah sekitar berbentuk dataran.
  • Pantai, yaitu wilayah daratan yang paling rendah berbatasan dengan perairan laut.

c. Cuaca dan Iklim

Dalam ilmu geografi yang termasuk unsur-unsur cuaca dan iklim, yaitu curah hujan, arah angin, tekanan udara, suhu udara, dan kelembaban udara. Unsur-unsur cuaca dan iklim merupakan bagian dari kondisi geografis. Untuk memahaminya, kalian di ajak mempelajari salah satu bagian dari unsur cuaca dan iklim yang terjadi di Indonesia dengan cara mengamati peta berikut!

Peta arah angin muson tenggara (Sumber: Atlas Geografi Indonesia dan Dunia, Pustaka Ilmu)
Peta arah angin muson tenggara (Sumber: Atlas Geografi Indonesia dan Dunia, Pustaka Ilmu)

Peta arah angin muson timur (Sumber: Atlas Geografi Indonesia dan Dunia, Pustaka Ilmu)
Peta arah angin muson timur (Sumber: Atlas Geografi Indonesia dan Dunia, Pustaka Ilmu)
Setelah kalian mengamati peta di atas, maka informasi tentang ciri kondisi cuaca dan iklim yang terjadi di Indonesia sebagai berikut.
  1. Kondisi iklim Indonesia dipengaruhi angin muson, yaitu angin yang bertiup setiap enam bulan sekali dan selalu berganti-ganti arah. Adanya perubahan arah angin muson ini mengakibatkan kondisi iklim di Indonesia terbagi menjadi dua musim setiap tahunnya, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Antara periode bulan April – September berhembus angin muson tenggara yang membawa pengaruh musim kemarau. Sebaliknya antara periode bulan September – April berhembus angin muson barat yang mengakibatkan musim penghujan.
  2. Indonesia dilalui garis khatulistiwa, maka wilayahnya mendapat pemanasan sinar matahari yang cukup sepanjang tahun. Akibatnya tingkat penguapan tinggi, udara cukup banyak mengandung uap air, dan hujan sering turun. Walaupun musim kemarau, tetapi dengan kondisi tingkat penguapan yang cukup tinggi, maka di beberapa tempat wilayah Indonesia sering terjadi hujan.
  3. Wilayah Indonesia terletak di antara dua samudra yang luas, sehingga kondisi iklim di Indonesia mendapat pengaruh iklim laut yang lembab. Kandungan uap air di udara sebagian besar berasal dari hasil penguapan perairan laut. Jadi semakin luas wilayah laut yang dilalui sinar matahari, semakin tinggi tingkat penguapan maka kondisi udara semakin lembab.

d. Flora dan Fauna

Fauna adalah jenis hewan yang hidup di suatu kawasan. Sedangkan flora, adalah spesies tumbuh-tumbuhan yang hidup di suatu kawasan dan tumbuh secara alami. Flora dan fauna yang terdapat di suatu kawasan berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Flora dan fauna bisa menjadi sumber kehidupan yang dapat diambil manfaatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, yaitu sebagai sumber bahan makanan, pakaian, perumahan, alat transportasi, dan lain-lain. Bagaimana kondisi flora dan fauna di Indonesia? Coba, kalian perhatikan peta persebaran flora dan fauna di Indonesia berikut!

Peta persebaran flora di Indonesia (Sumber: Atlas Indonesia, Dunia & Budaya, Depdikbud)
Peta persebaran flora di Indonesia (Sumber: Atlas Indonesia, Dunia & Budaya, Depdikbud)

Peta persebaran fauna di Indonesia (Sumber: Atlas Indonesia, Dunia & Budaya, Depdikbud)
Peta persebaran fauna di Indonesia (Sumber: Atlas Indonesia, Dunia & Budaya, Depdikbud)

Seorang sarjana botani hewani berkebangsaan Inggris bernama Alfred Russel Wallace mengadakan penyelidikan binatang di wilayah Indonesia bagian tengah pada tahun 1852-1854. Kemudian Max Wilhelm Carl Weber seorang sarjana perikanan berkebangsaan Jerman mengadakan penyelidikan tentang jenis-jenis ikan air tawar di wilayah Indonesia bagian timur pada tahun 1899-1900. Dua sarjana lainnya yang berkebangsaan Swiss Sarasin dan Abendanon ikut membantu mengambil bagian dalam penyelidikan tentang jenis-jenis hewan di Sulawesi. Atas jasa-jasa dan hasil kegiatan penyelidikan tersebut, kemudian kedua nama tokoh Wallace dan Weber diabadikan sebagai nama garis batas pengelompokan tipe-tipe flora dan fauna di wilayah Indonesia. Garis batas pemisah antara tipe flora dan fauna wilayah barat dengan wilayah tengah diberi tanda dengan nama garis Wallace. Kemudian garis batas pemisah antara tipe flora dan fauna wilayah Indonesia timur dengan tengah di beri nama garis Weber.

Indonesia memiliki keanekaragaman spesies flora dan fauna yang termasuk terbanyak di dunia, hal ini disebabkan pengaruh dari iklim tropis. Tiap daerah di Indonesia memiliki corak spesies flora dan fauna yang berbeda-beda sesuai dengan habitatnya. Faktor-faktor alam yang berpengaruh terhadap adanya perbedaan spesies flora, antara lain kondisi iklim lokal, jenis tanah, ketinggian tempat, ketersediaan air, dan unsur biotik. Adapun jenis flora yang tumbuh di Indonesia berupa hutan hujan tropis, hutan musim, hutan bakau, hutan rawa, sabana, stepa, dan padang lumut. Sedangkan adanya keanekaragaman spesies fauna di Indonesia dipengaruhi oleh faktor keadaan alam, gerakan hewan, dan rintangan alam.

Perlu kalian ketahui, menurut kondisi geografis wilayahnya, jenis flora dan fauna di Indonesia terbagi menjadi tiga macam tipe, sebagai berikut.
  1. Tipe Asiatis, yaitu tipe flora dan fauna yang sejenis dengan di daratan Asia dan hidup di wilayah Indonesia bagian barat (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan).
  2. Tipe Australia, yaitu tipe flora dan fauna yang sejenis dengan di daratan Australia dan hidup di bagian timur wilayah Indonesia (Papua dan pulau-pulau sekitarnya).
  3. Tipe peralihan, yaitu tipe flora dan fauna yang tidak di jumpai di Daratan Asia maupun Australia. Tipe jenis ini hidup di wilayah Indonesia bagian tengah (Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara).
Untuk lebih memperjelas pemahaman tentang pembagian wilayah tipe-tipe flora dan fauna, kalian amati peta di berikut!

Peta persebaran flora-fauna di Indonesia menurut pembagian garis Wallace dan Weber (Sumber: Sosiologi dan Geografi Untuk SMP kelas 2, Ganeca Exact)
Peta persebaran flora-fauna di Indonesia menurut pembagian garis Wallace dan Weber (Sumber: Sosiologi dan
Geografi Untuk SMP kelas 2, Ganeca Exact)

e. Jenis Tanah

Tanah mempunyai nilai yang amat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup di muka bumi. Jadi apakah tanah itu? Tanah merupakan bagian lapisan pembentuk kulit bumi paling atas dan sangat tipis yang terbentuk dari berbagai campuran batuan induk yang telah lapuk, air, udara, jasad tumbuhan dan binatang yang telah mati. Jenis tanah yang tersebar di berbagai wilayah tidak sama, hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan jenis batuan induk, curah hujan, kekuatan pancaran sinar matahari, bentuk muka bumi, tumbuhan penutup tanah, dan pengaruh aktivitas makhluk hidup. Bagaimana dengan kondisi tanah di Indonesia, baik jenisnya, tingkat kesuburannya, maupun persebarannya? Ikuti pembahasan berikutnya!

Jenis tanah yang tersebar di Kepulauan Indonesia berjumlah sekitar 22 jenis tanah. Tidak semua jenis tanah tersebut subur, bergantung kepada ada tidaknya tiga unsur penyebab kesuburan tanah, yaitu unsur hara, kandungan air, dan susunan butir tanah. Tanah yang paling dikenal di Indonesia karena tingkat kesuburannya cukup tinggi, antara lain tanah vulkanik (berasal dari pelapukan abu vulkanik), tanah aluvial (hasil endapan erosi di sekitar aliran sungai), tanah humus (hasil pembusukan bahan-bahan organik), tanah podzolit (tanah di
pegunungan dengan tinggi curah hujan). Jenis tanah lain tapi kurang subur yaitu tanah gambut (tanah rawa) dan tanah kapur (tanah di daerah berkapur).

Persebaran jenis tanah di berbagai pulau Indonesia tidak merata dan berbeda-beda pula tingkat kesuburannya, bahkan dalam satu wilayah pulau pun akan nampak perbedaan itu. Hal ini bergantung pada ketersediaan faktor-faktor gejala alam yang berpengaruh terhadap pembentukan jenis-jenis tanah dan tingkat kesuburannya. Berikut ini, coba kalian perhatikan peta penyebaran tanah di Indonesia!

Peta persebaran jenis tanah di Indonesia (Sumber: IPS Geografi untuk SLTP kelas 2, Erlangga)
Peta persebaran jenis tanah di Indonesia (Sumber: IPS Geografi untuk SLTP kelas 2, Erlangga)

f. Sumber Daya Air dan Kelautan

Sumber daya air yang ada di daratan dan sumber daya kelautan, merupakan potensi gejala alam yang sangat
dibutuhkan oleh makhluk hidup khususnya manusia. Air yang ada di daratan baik langsung maupun tidak sangat banyak manfaatnya untuk kepentingan manusia. Demikian pula segala potensi yang dikandung lautan jika kita gali dan diberdayakan sungguh suatu karunia kekayaan dari Sang Maha Pencipta alam yang tidak terhingga banyaknya dan tidak akan pernah habis untuk kita manfaatkan.

Sumber daya air adalah segala potensi air yang dikandung udara, di permukaan bumi, di dalam tanah, dan proses yang menyertai yang dapat memberikan manfaat untuk kepentingan semua makhluk hidup. Bentuk-bentuk sumber daya air di daratan terdiri dari sungai, danau rawa, air rawa, air mata air (air tanah), dan air artesis. Di Indonesia bentuk-bentuk sumber daya air ini hampir tersebar merata di seluruh wilayah Kepulauan, karena Indonesia beriklim tropis dengan dua kali pergantian musim dan didukung oleh kondisi bentuk topografi beraneka ragam, sehingga persediaan sumber daya air tidak akan pernah habis.

Sumber daya kelautan adalah segala potensi yang dikandung oleh permukaan, di dalam, dan di dasar laut yang dapat memberikan manfaat. Sumber daya kelautan dapat kita manfaatkan sebagai sumber perikanan, energi, jalur transportasi, keseimbangan iklim bumi, persediaan air, obat-obatan, sarana olah raga, dan lain-lain. 71% wilayah negara Indonesia merupakan wilayah perairan laut yang tersebar merata menyatukan seluruh pulau dan kaya dengan berbagai jenis spesies ikan serta hasil-hasil laut lainnya, seperti rumput laut, berbagai jenis karang, mutiara, garam, mineral, agar-agar, lain-lain. Perhatikan, peta berikut!

Peta persebaran jalur air tanah di Indonesia (Sumber: IPS Geografi untuk SLTP kelas 2, Erlangga)
Peta persebaran jalur air tanah di Indonesia (Sumber: IPS Geografi untuk SLTP kelas 2, Erlangga)
Peta persebaran ikan laut di Indonesia (Sumber: IPS Geografi untuk SLTP kelas 2, Erlangga)
Peta persebaran ikan laut di Indonesia (Sumber: IPS Geografi untuk SLTP kelas 2, Erlangga)

g. Sumber Daya Mineral

Sumber daya mineral adalah segala potensi alam berupa bahan galian yang terdapat pada perut bumi diperoleh melalui proses pertambangan (eksplorasi). Oleh karena itu sumber daya mineral sering disebut sebagai bahan galian tambang. Bahan galian tambang termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Sumber daya mineral meliputi barang-barang galian tambang berupa energi migas dan nonmigas, mineral logam, serta batu nonlogam. Contohnya, minyak bumi, batu bara, bauksit, timah, nikel, tembaga, besi, perak, emas, aspal alam, belerang, gas alam, dan lain-lain. Sumber daya mineral sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari untuk kepentingan bidang perindustrian, sarana transportasi, peralatan rumah tangga, dan sebagainya.

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan bahan-bahan galian tambang, baik yang terdapat di daratan maupun di dasar laut karena kondisi geografisnya sangat mendukung. Persebaran jumlah dan jenis sumber daya mineral tiap pulau di Indonesia tidak merata, hal ini bergantung kepada faktor-faktor kondisi geografis yang ada pada suatu wilayah. Untuk lebih memperjelas tentang persebaran barang-barang tambang penting di Indonesia. Coba kalian perhatikan peta berikut!

Peta persebaran bahan galian tambang di Indonesia (Sumber: Atlas Indonesia, Dunia & Budaya, Depdikbud)
Peta persebaran bahan galian tambang di Indonesia (Sumber: Atlas Indonesia, Dunia & Budaya, Depdikbud)

2. Kondisi Penduduk Suatu Wilayah

Unsur lingkungan yang terdapat dalam suatu wilayah selain faktor fisik, adalah faktor penduduk. Penduduk adalah orang-orang yang mendiami suatu wilayah di muka bumi. Kondisi penduduk tiap wilayah di permukaan bumi berbedabeda, perbedaan ini dapat dilihat dari faktor kuantitas dan kualitasnya. Kuantitas penduduk adalah kondisi penduduk di suatu wilayah berkenaan dengan faktor jumlah, tingkat pertumbuhan, susunan, tingkat kepadatan, dan persebarannya. Sedangkan kualitas penduduk adalah kondisi penduduk di suatu wilayah berkenaan dengan faktor sumber daya manusianya yang meliputi aspek tingkat pendidikannya, tingkat kesehatannya, dan perekonomiannya. Untuk mengetahui kondisi penduduk di suatu wilayah, kita ambil contoh tentang kondisi penduduk di Indonesia, bagaimana kondisi kuantitas dan kualitasnya?

a. Kuantitas Penduduk

Yang termasuk penduduk Indonesia yaitu warga negara Indonesia asli dan keturunan serta warga negara asing yang telah berdiam paling sedikit enam bulan lamanya di wilayah Indonesia. Dewasa ini, Indonesia seperti negara-negara lainnya di dunia sedang mengalami permasalahan penduduk. Secara kuantitasnya terdapat tiga permasalahan utama penduduk yang dihadapi Indonesia, yaitu jumlah penduduk yang besar, tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi, dan persebaran penduduk yang tidak merata.

Jumlah penduduk Indonesia berada pada urutan ke empat setelah negara Cina, India, dan Amerika Serikat. Dari hasil pencacahan jiwa yang di lakukan di Indonesia menunjukkan bahwa jumlah penduduknya terus bertambah. Diperkirakan pada tahun 2005 kondisi jumlah penduduk Indonesia mencapai 241.973 jiwa. Berikut ini disajikan tabel data jumlah penduduk Indonesia dari tahun 1930 sampai tahun 2005.

Jumlah penduduk Indonesia
Jumlah penduduk Indonesia
Jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara mengalami perubahan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan penduduk yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan (migrasi). Bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk dinamakan pertumbuhan penduduk. Kondisi laju pertumbuhan di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai contoh laju pertumbuhan penduduk Indonesia antara tahun 1990-2000 sebesar 1,49%, kemudian antara tahun 2000-2003 terjadi kenaikan, yakni mencapai 1,5%. Berikut ini disajikan peta pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1990-2000 dan tahun 2000-2003.

Peta pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1990-200 dan tahun 2000-2003 (Sumber: Geografi dan Sosiologi Pelajaran IPS Terpadu untuk SMP kelas VII, Ganeca Exact)
Peta pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1990-200 dan tahun 2000-2003 (Sumber: Geografi dan Sosiologi Pelajaran
IPS Terpadu untuk SMP kelas VII, Ganeca Exact)
Indonesia memiliki masalah persebaran penduduk yang tidak merata dari tiap pulau dan provinsinya. Persebaran penduduk berkaitan dengan kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk adalah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah rata-rata penduduk dalam satuan wilayah seluas satu kilometer persegi. Faktor-faktor lingkungan geografis yang mempengaruhi persebaran penduduk, antara lain lokasi, iklim, relief, tanah, sumber daya alam, sumber daya air, dan kebudayaan. Berikut ini, coba kalian perhatikan tabel kepadatan penduduk tiap provinsi di Indonesia!

Kepadatan Penduduk tiap Provinsi di Indonesia Tahun 2005
Kepadatan Penduduk tiap Provinsi di Indonesia Tahun 2005

b. Kualitas Penduduk

Menyangkut permasalahan kondisi kualitas penduduk yang di hadapi oleh Indonesia, antara lain meliputi kondisi tingkat pendidikan, kesehatan, dan perekonomian. Masalah yang dihadapi bidang pendidikan di Indonesia, yaitu masih rendahnya tingkat pendidikan yang dicirikan oleh jumlah sarana dan prasarana yang belum tersebar merata, anggapan pendidikan bukan hal penting, dan pendapatan per kapita penduduk yang masih rendah sehingga banyak anak putus sekolah. Permasalahan di bidang kesehatan, yaitu masih buruknya kondisi gizi untuk kebutuhan ibu dan bayi, sehingga tingkat kematian bayi masih tinggi, angka usia harapan hidup rendah, kondisi lingkungan masih rendah menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, seperti DBD dan flu burung, ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan masih minim terutama di daerah-daerah terpencil. Di bidang perekonomian, yaitu masih rendahnya daya beli masyarakat terhadap kebutuhan barang-barang pokok disebabkan tingkat pendapatan per kapita rata-rata masyarakat masih di bawah standar kelayakan hidup, tingkat pengangguran tinggi karena pertambahan jumlah penduduk tidak diimbangi dengan penyediaan lapangan pekerjaan.

3. Kaitan antara Kondisi Geografis dengan Keadaan Penduduknya

Kondisi geografis suatu wilayah dengan wilayah lainnya berbeda. Kondisi geografis mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi penduduk wilayah tertentu. Oleh sebab itu, manusia dengan segala kecerdasan dan kemauannya berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan geografisnya atau berupaya mengubah kondisi lingkungan tersebut sesuai dengan kepentingannya. Adanya keragaman kondisi geografis tiap wilayah memunculkan corak mata pencaharian, pola-pola permukiman, tradisi, adat-istiadat, dan aspek kehidupan sosial lainnya.

a. Kehidupan di Wilayah Pantai

Kehidupan masyarakat di wilayah pantai berkaitan erat dengan laut. Penduduk yang tinggal di wilayah ini umumnya menyelaraskan dirinya sebagai nelayan. Adapun pola permukiman penduduk di wilayah ini berbentuk permukiman yang tersebar secara memanjang (pola linier) mengikuti garis pantai. Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini banyak kawasan di wilayah pantai tumbuh dan berkembang menjadi kota-kota pusat kegiatan ekonomi, sosial-budaya, bahkan pemerintahan, dan pertahanan-keamanan. Di Indonesia, kota-kota pelabuhan yang berkembang pesat, misalnya Jakarta dan Surabaya. Akibatnya aktivitas kehidupan masyarakat di wilayah pantai banyak yang berpindah profesi, misalnya menjadi pedagang, pelayanan jasa, dan lain sebagainya.

b. Kehidupan di Wilayah Dataran Rendah

Penduduk di daerah dataran rendah bertempat tinggal dengan membentuk pola permukiman dengan bentuk linier yang tersebar sejajar dengan arah jalan dan jalur aliran sungai. Adapun pola pemukiman penduduk di daerah kota terutama yang dekat dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi memiliki pola permukiman dengan bentuk terpusat atau tersebar melingkari pusat-pusat perekonomian.

Di daerah dataran rendah, umumnya bentuk mata pencaharian penduduk lebih berorientasi kepada bidang pertanian khususnya di daerah pedesaan. Kegiatan pertanian yang dikembangkan yaitu pertanian yang menghasilkan tanaman pangan dan tanaman komoditas. Di wilayah-wilayah yang telah maju, telah berkembang pula kegiatan penduduk yang berorientasi kepada bidang perdagangan, komunikasi, transportasi, dan kepariwisataan. Di samping itu, wilayah dataran rendah banyak dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan gedung-gedung pusat pemerintahan, pusat pendidikan, pusat perbelanjaan, dan lain-lain.

c. Kehidupan di Wilayah Pegunungan

Penduduk yang berada di lokasi ini ada yang tinggal dengan membentuk pola permukiman terpusat sekitar lokasi wisata dan penambangan, ada pula yang bergerombol di sekitar lokasi tanah perkebunan dan kehutanan terutama mereka selalu mendekati daerah-daerah sumber air.

Sebagian besar kondisi mata pencaharian penduduk yang tinggal di wilayah ini, berorientasi kepada bidang perkebunan dan kehutanan. Di daerah-daerah yang kondisi lapisan tanahnya banyak mengandung bahan-bahan tambang, otomatis mereka beraktivitas di bidang penggalian barang-barang tambang. Untuk wilayah-wilayah pegunungan yang dijadikan kawasan wisata, maka orientasi mata pencaharian penduduk lebih memilih untuk berdagang atau pelayanan jasa.oleh ririn ambarwati